Anakku Memaksaku Menjadi Kuat


            Saya sangat terharu ketika saya rebahan disamping hanifah menemanin nonton DVD anak-anak. tiba-tiba dengan polos hanifah memeluk ku sambil berkata “ummi, tadi kan puasa apa ummi sudah makan? Nanti sakit kalau tidak makan.” Sangat terharu dengan nasehat yang keluar dari mulut anak umur 4 tahun.

            Bagi saya anak-anak ibarat sebuah anugrah yang sangat berharga. Saya banyak belajar dari dua gadis kecilku. Kadang kala dari mulut mungil mereka keluar kata kata yang ajaib membuat saya meleleh bahkan gerimis di pipi karena haru dihati.

            Bahkan ketika suami meninggal mereka yang memaksa saya untuk kuat. Kabar duka itu datang saya hancur tapi ketika melihat dua bintang kecil kami kekuatan itu muncul. Jika saya hancur dihadapan mereka maka mereka akan lebih hancur. Memeluk mereka dengan derai air mata kesedihan kehilangan seorang Ayah diusia terlalu muda. Hati ibu mana yang tak pedih terluka bahkan berdarah darah.

            Ketika dua mata yang berderai airmata menatapku mengadukan duka aku hanya mampu membalas dengan senyum dan berbisik “ tersenyum nak, biar Ayah pergi dengan senyum bukan sedih melihat kita menangis. Jangan diratapi nak Ayah bersama Alloh” dengan penuh perjuangan bisikan itu mengalir dari mulut seorang ibu yang hancur hatinya. 

            Sebuah nasehat selalu terucap dari mulutku “ kalian adalah anak-anak hebat, anak yang kuat. Ketika Ayah tak lagi menjaga kita tidak lagi mencarikan rizqi untuk kalian maka Alloh langsung yang akan menjaga dan Alloh yang akan mencukupkan kebutuhan kalian.

            Anak-anak itu merupakan alasan saya mampu kuat menjalani terpaan ujian kehidupan. Anak adalah energi positif yang membuat hidup saya menjadi optimis. Semangat untuk menjadi ibu yang baik, menjadi ibu yang tangguh bagi mereka. Kala lelah mendera dengan menikmati senyum mereka lelah menjadi sirnah. Ketika rayuan manis mengalir dari mulut mungilnya menjadi sebuah mantra dahsyat yang melenyapkan segala beban.
            Pernah disuatu pagi saya pamit akan berangkat bekerja hanifah 4th berkata “ ummi, dimataku ada ummi, dihatiku ada ummi, hanifah sayang ummi” hatiku haru airmata tak lagi terbendung. Kupeluk erat tubuh mungilnya, “terimakasih ya sayang, ummi juga sayang hanifah”
            Kadang kala di dalam tas kerjaku sudah ada amplop surat cinta dari sulungku Rahma Amalia 7th yang isinya ungkapan sayang dan ungkapan terimakasih untuk kebersamaan kami. Ya Alloh terimakasih untuk anugrah terindah bagiku. Anak-anak yang menjadi penyemangat hidupku, dan teman kehidupanku.

            Dulu semasa masih ada suami sering sekali beliau berkata “ Alloh itu maha baik kita diberi anak yang mudah memahami situasi orang tua meski diusia yang belia.” Kalau ingat kata kata tersebut mengalir air mata ini. Syukur yang tiada terkira atas anugerah yang luar biasa.

            Untuk anak-anakku tetaplah semanis sekarang ini, jangan pernah berubah ya nak. Tetaplah perhatian kepada ummi meskipun nanti ummi sudah menua. Tetaplah menemani ummi meski kalian akan memiliki kehidupan sendiri. Jangan biarkan ummi kesepian tanpa canda tawa kalian. Doa dan cinta ummi akan selalu mengiringi langkah mungil kalian hingga nanti langkah mu sudah mantap menyongsong  masa depan. 


             

4 Komentar untuk "Anakku Memaksaku Menjadi Kuat"

  1. Barokallah, Mbak Ika. Smg mereka terus tumbuh menjadi anak2 sholihah.

    BalasHapus
  2. Ummi, semoga Allah mencukupkan apa yang ummi dan anak anak butuhkan, semoga Allah selalu melimpahkan rezki iman, islam dan kesehatan kepada ummi dan anak anak, semoga kelak perjuangan ummi membesarkan buah cinta ummi dibalas surga firdaus. Aamiim Allahumma aamiin ya Rabb

    BalasHapus

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel