Anakku Anak langit






Sebagai wanita yang bekerja di sebuah instansi tentu banyak konsekwensi berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab. Bekerja bagi seorang wanita memang bukan lah kewajiban, bahkan bagi seorang singel parent sekalipun bekerja di luar rumah bukan sebuah kewajiban. Setidaknya demikian yang saya tangkap dalam ajaran islam, karena seorang wanita ketika menjadi janda maka kewajiban menafkahi jatuh kepada saudara laki-laki. 

Meskipun bukan menjadi kewajiban jika memiliki potensi untuk bekerja dan menafkahi anaknya sendiri tentu lebih baik. Bukan kah tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Bekerja bagi saya bukan sekedar mencari materi tetapi ada banyak nilai lain. Bekerja adalah aktualisasi diri, memanfaatkan ilmu yang dimiliki, dan tentu menjadi sarana ibadah. 

Dilema sering kali mewarnai perjalanan karier  baik sebagai wanita pekerja juga sebagai ibu bagi kedua malaikat kecilku. Berangkat bekerja menjadi begitu berat ketika anak sakit. Mengatur waktu menjadi sebuah dilema ketika ada rapat pada jam anak pulang sekolah, ketika mesti meninggalkan mereka  dinas diluar kota, dan banyak saat-saat yang dilematis. 

Sebuah anugrah tersendiri ketika kedua malaikat kecilku begitu memahami situasi yang dihadapi wanita lemah ini. Malaikat kecil yang selalu menyalurkan semangat luar biasa bagi wanita bernama ibu. Setiap kali diberikan pengertian mereka selalu memahami bagaimana perjuangan ibunya untuk tetap bekerja demi masa depan. 

Bahkan sulung ku Rahma sering kali membuat haru, membuat ibumu tersedu hanya karena surat cinta yang kau selipkan di tas kerjaku. Untaian kata penyemangat, puisi- puisi indah, atau sekedar ucapan terimakasih untuk kebersamaan kita. Malaikat kecil tanpa sayap yang menjadi penguat jiwaku. Mulut mungil yang tak lelah melantunkan doa untuk ibumu membuat langkah ini semakin ringan. 

Tak terlupakan ketika ummi lalai tak menjemputmu di jam pulang sekolah, karena ummi terlalu sibuk dengan amanah yang tak bisa ditinggal. Ketika sampai rumah baru ingat rahmaku belum pulang masih disekolah. Di derasnya hujan ibumu kalang kabut menjemputmu, hancur hatiku nak merasa bersalah kecewa pada diri sendiri yang tak amanah menjagamu. Dan ketika sampai di sekolah tak ada gurat kecewa atau marah darimu, hanya senyum dan berkata “ummi baru pulang? Kok hujan-hujanan nanti asthmanya kambuh? “

MasyaAlloh nak, kenapa enggak marah atau protes ? kenapa malah perduli pada ibumu yang lalai ini? Rasa bersalah ini semakin besar. Beginikah cara Alloh mencubitku agar tak lalai menjagamu. 

Sungguh kalian adalah anak-anak langit, dimana doa-doa kalian membumbung dilangit dan langsung di dengar Alloh. Demikian jiwa kalian nak, di tempa menjadi anak-anak tangguh, anak yang kuat karena yang menempa  adalah Alloh langsung. Jadi teringat  sebuah nasehat yang saya berikan kepada rahma satu minggu setelah kepergian sang Ayah.

“ketika Alloh mengambil Ayah  bukan karena Alloh tak sayang nak. Jangan khawatir karena Alloh yang akan menjaga kalian tanpa perantara ayah. Alloh yang akan memenuhi segala kebutuhan kalian tanpa melalui perantara Ayah. Karena kalian adalah anak-anak yang di didik langsung oleh Alloh tanpa perantara seorang Ayah. Kalian adalah anak-anak langit anak pilihan Alloh, jadi jangan pernah merasa kekurangan, jangan pernah merasa tidak disayang karena kasih sayang Alloh tak pernah kurang untuk kalian”  

Teruslah menjadi penguat jiwaku, menjadi malaikat tanpa sayap yang dengan senyummu lelah ini sirnah tak berbekas. Mari berjalan bersama menyamakan langkah untuk meraih secercah bahagia. Karena bahagiaku adalah membersamai malaikatku melangkah mengejar mimpi menjadi pembuka pintu surga bagi kedua orangtuamu ini. 

Maafkan ketika ibu mu lalai, maafkan ketika kesabaran ini masih jauh dari harapanmu, maafkan segala keterbatasan ibumu. Biarkan ibu terus belajar membersamai dengan cara terbaik yang dimiliki, dengan waktu yang terbatas, dan sisa energi yang mampu ibumu berikan. 
 
Percayalah apapun takdir keidupan adalah yang terbaik untuk hidupmu, kesulitan janagn membuatmu lebur tapi menguatlah.
Kelak akan ada saatnya harus berjalan tertatih-tatih karena sakitnya ujian, beratnya beban. Namun kelak ada saatnya  akan mampu berlari kencang mengejar mimpi meskipun ada banyak kesakitan dan beban. Belajar berjuang nak, agak kelak hujan badai tak membuatmu tumbang.

Merenung bersama sang malam
Metro, 9 Januari 2017

Belum ada Komentar untuk "Anakku Anak langit"

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel