Menemukan cinta disaat kehilangan





Kehilangan adalah episode kehidupan yang akan di lalui oleh setiap manusia. Kehilangan apapun didunia ini baik diambil oleh Alloh ataupun di ambil oleh manusia adalah sebuah kewajaran. Rasa kecewa, sedih, menangis, kehilanganbahkan histeris  adalah reaksi yang muncul ketika menghadapi kehilangan. Sekuat apapun manusia pati akan terluka menghadapi episode kehilangan. Apalagi jika yang hilang adalah belahan jiwa.

Begitulah setidaknya gambaran saya yang merasakan kehilangan sandaran jiwa. Kalau kata orang jawa pasangan hidup itu namanya “ GARWO” yang artinya sigarane nyowo atau kalau bahasa indonesianya separuh jiwa. Bisa kita bayangkan apa yang dirasakan jika separuh jiwa hilang tak kembali? 

Hampa, tak tentu arah, pincang, dan kesedihan yang rasanya tiada akhir. Butuh waktu yang panjang dan energi yang luar biasa untuk beradaptasi dengan kesendirian. Ruang hati mendadak kosong, hati yang dulu penuh dengan cinta kini redup sepi tanpa cinta.  Lalu kemana perginya cinta? 

Suatu hari saya membaca sebuah kisah sahabat Rosululloh yang bernama Ummu Salamah, beliau adalah sosok wanita tegar menghadapi kehilangan suami yang aman di cintai. Kisah cinta yang indah terpisahkan oleh takdir Alloh. Kisah Ummu Salamah adalah pembangkit semangat saya untuk terus bangkit menjadi sosok yang tegar menghadapi kehilangan. Bahkan beliua mengucapkan sebuah doa yang diwasiatkan oleh suami sebelum beliau meninggal.

Suami Ummu salamah berpesan bahwasannya bila beliau meninggal meminta istrinya membaca doa yang pernah diajarkan oleh Rosululloh. sesungguhnya kita milik Alloh, dan kita akan kembali kepada-Nya. Ya Alloh berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.”  
 
Kemudian suami Ummu salamah membacakan doa untuk Ummu salamah “ Semoga Alloh memberimu  ganti suami yang lebih baik dariku dan lebih menyayangimu.”  

Ummu Salamah sangat sedih berpisah dengan suami untuk selamanya. Tak mampu lagi membendung airmata kesedihan duka yang sangat dalam menerima takdir wafatnya sang suami. Namun Ummu Salamah adalah wanita solihah sehingga sangat taat kepada suaminya. Kesalihahnya membuatnya ingat setiap pesan dan wasiat suaminya sehingga ummu salamah membaca doa yang diminta suaminya. Meskipun hatinya tetap bertanya laki-laki manakah yang mungkin sama dengan suaminya, laki-laki manakah yang akan lebih baik dari suaminya? Apakah ada didunia ini yang  lebih baik dari suaminya?

Takdir Alloh selalu yang terbaik untuk hambanya, terutama yang selalu ikhlas dengan takdir kehidupannya. Atas izin Alloh Ummu Salamah mendapat suami pengganti yang lebih baik dari suami pertama dan tentu lebih menyayanginya juga. Suami dari Ummu Sumayah adalah Nabi Muhammad saw. Doa Ummu Salamah dan juga Suaminya terkabul.

Dari kisah Ummu Salamah tersebut membuat saya tersadar, apapun yang hilang di dunia ini baik di ambil oleh Alloh ataupun manusia pasti akan ada ganti yang lebih baik. Entah terganti dengan hal yang sama ataupun dengan rizqi lainnya. Bukankah apapun yang kita miliki adalah rizqi, demikian juga dengan jodoh, ilmu, teman dan apapun yang kita nikmati adalah rizqi. 

Menikmati episode kehidupan dengan rasa syukur membuat warna lain dalam hidup saya. Mengenal hal baru, bergabung dengan beberapa komunitas yang positif membuat energi baru untuk saya. Menjalani peran baru saya sebagai singgel mom, menikmati setiap peran saya bagi anak-anak dengan penug cinta. 

Berjalannya waktu saya menyadari perubahan besar dari diri saya sendiri. Saya yang mudah sekali merasa sedih, sering menangisi kesendirian, sering nulis status di media sosial dengan hal-hal yang sedih, mudah baper, sering murung, bahkan boleh saya katankan sangat menyedihkan sekali.
Sekarang hidup ku berwarna senyum selalu menghiasi wajahku, ah indahnya hidupku saat ini. Semangat menghadapi setiap episode kehidupan, tiap pagi rasanya merona deg-deg an apa yang akan saya temui hari ini. Pelajaran apa yang akan saya peroleh hari ini? Rizqi ilmu dari siapa yang akan mewarnai hari ini? Rayuan rindu menikmati setiap detik waktu membuatku semakin semangat.

Setiap hari saya jatuh cinta, ya jatuh cinta pada diri saya sendiri. Dulu saya sibuk menikmati cinta kepada suami, atau indahnya dicintai oleh suami. Saat ini saatnya saya mengisi hati yang kosong tanpa cinta dari suami dengan cinta yang baru yaitu cinta dari saya untuk diri saya sendiri. Bagaimana saya akan berbagi cinta dengan anak-anak saya ketika saya sendiri tidak mencintai diri sendiri. 

Bukan karena aku melupakan suamiku, karena sejauh apapun aku pergi cinta kepada belahan jiwaku sudah merasuk dalam jiwa, melebur dalam tiap aliran darah dan nafas ini. Aku hanya mencintai beliau dengan cara yang berbeda, cinta yang lebih bermakna. Aku ingin beliau tersenyum karena aku dan anak-anak bisa tetap bahagia. 

Pesona cinta suamiku tak akan pudar meskipun belau telah pergi, karena ketaqwaannya menuntunku untuk lebih ikhlas melepas. Memaknai hidup, mendidik anak-anak adalah caraku mencintai beliau saat ini. Terus berusaha menjadi wanita solihah, mendampingi anak-anak menjadi kebanggaan dunia akherat hingga kelak mereka menjadi bidadari surga bersama sang Ayah. 

memoar cinta,
goresan rindu 

Belum ada Komentar untuk "Menemukan cinta disaat kehilangan "

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel