Me Time Impian Saya




            Dulu awal saya mendengar istilah me time rasanya menjadi impian banget bisa menikmati me time. Asyik bisa menikmati istirahat sekedar tidur siang satu jam saja, atau pulang kerja mampir salon creambat gitu. Kalau ibu-ibu rumah tangga saja kesulitan mengatur waktu buat me time lalu gimana dengan saya yang full mom sekaligus working mom.
            Saya adalah seorang ibu berusia 35 tahun  dengan dua putri yang masih kecil-kecil. Saya juga seorang wanita karier yang bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta di tempat saya tingga. Oh ya saya juga singgel parent qodarulloh suami sudah berpulang kepada Alloh 2 tahun yang lalu.
            Bisa dibayangkan bagaimana waktu 24 jam yang saya miliki untuk anak-anak, karier dan mengurus segala kebutuhan dirumah ataupun sekolah anak. Jadwal dari subuh hingga malam sudah full dengan aktifitas. Bahkan saat saya bekerja mesti mencuri waktu untuk antar jemput anak sekolah. Semua saya kerjakan sendiri benar-benar multi job, dari masak, cuci baju, setrika, ngojek anak, bekerja bahkan masih jualan online untuk mencari tambahan rizqi bagi kedua anak yatim yang saya tanggung.
            Lalu kepikiran mau me time kapan ? Saya benar-benar bermimpi memiliki waktu untuk me time. Ketika lelah pulang kerja anak sudah bergelanyut manja ingin bersama saya. Apalagi yang kecil masih 3 tahun kala itu. Benar-benar menguras energi, lelah fisik, hati juga fikiran. Kalau sudah lelah akhirnya semua pekerjaan tidak ada yang benar, emosi tidak stabil yang kena imbasnya anak-anak akhirnya menyesal sepanjang malam.
            Akhirnya saya mulai merapikan jadwal 24 iam yang saya punya, bertekad untuk memanjakan diri sendiri dengan me time meski hanya 1 jam. Saya tidak mau membuat semua berantakan karena mood saya berantakan akibat kelelahan. Bagaimanpun saya sebagai ibu mesti bahagia, jika saya bahagia maka anak juga bahagia. Bagaimana saya akan membahagiankan anak jika saya sendiri merana.
            Me time saya sangat situasional bahkan dapat saya nikmati dengan penuh manfaat. Ada beberapa cara saya menikmati me time sesuai dengan keinginan saya saat itu.  Ketika saya pulang kerja dalam situasi lelah maka say menyempatkan diri diam dalam kamar cukup 30 menit sampai 1 jam. Biasanya saya gunakan untuk tidur atau sekedar tiduran tapi benar-benar istirahat. Dan sebelum masuk kamar saya bilang sama anak-anak “ Ummi lelah nak, izinkan ummi istirahan di kamar sebentar saja ya. Setelah itu kita main bareng ok” biasanya anak- anak akan bermain berdua atau ikut tidur di kamar lain tanpa mengganggu istirahat saya. 
            Me time yang lain dapat saya lakukan ketika malam hari saat anak-anak tiidur. Ya rasa sepi, sendiri, frustasi dan kehilangan membuat saya depresi. Hingga saya mengenal dunia menulis sebagai terapi depresi. Saya rajin mengikuti training menulis online yang kebetulan jam belajarnya malam hari. Hal ini tentu memudahkan saya ketika anak-anak tidur saya bisa focus belajar. Dari belajar menulis ini saya menjadi lebih berani mengungkapkan isi hati, meluapkan emosi dengan menulis. Lebih tepatnya terapi beradaptasi dengan kehilangan. Sehingga menulis adalah salah satu me time saya. Me time ini dapat saya lakukan pada malam hari stelah anak tidur.
            Memilih menulis menjadi me time sangat positif bagi jiwa saya. Tentu saja bagi seorang singgel mom berada dalam situasi yang serba sensitif. Komentar-komentar negatif sering hilir-mudik ditelinga saya. Sangat tidak efektif ketika saya meladeni kata-kata negatif dengan lisan. Tetapi ketika saya menuliskan sanggahan dari hal-hal tersebut dengan prespektif yang positif maka lebih mudah untuk diterima dan di renungkan.
            Nyatanya me time yang dulu hanya mimpi bagi saya saat ini menjadi sebuah kebutuhan. Seorang ibu harus memiliki me time demi kelancaran setiap amanah yang di emban. Karena kelelahan akan berimbas kepada hubungan dengan anggota keluarga yang tidak harmonis terutama kepada anak-anak. Dampak terburuk seorang ibu yang tidak mampu mengatur waktu bagi dirinya sendiri adalah dampak psikis anak yang sering menjadi pelampiasan amarah ibunya.
            Demikian sekelumit cerita bagaimana seorang yang dulu memiliki me time adalah mimpi namun sekarang menjadi kebutuhan. Me time ada atau tidak bagaimana seorang ibu mempu mengatur waktu. Me time tidak harus jalan-jalan menghabiskan uang tetapi bagaimana kita bisa bahagia dengan waktu yang ada. Apalagi kalau bisa memanfaatkan me time dengan hal yang produktif.

Penulis :
Ika Yudaningrum yang lebih dikenal dengan nama pena Ummu Arrahma. Singgel parent dengan 2 putri bekerja sebagai perawat di RS Islam Metro Lampung. Aktifitas menulis dimulai tahun 2016. Aktif menulis sebagai kontributor Web Emakpintarasia.com, menulis di blog http://ummuarrahma1.blogspot.com, Buku yang telah terbit antologi Bangga menjadi Ibu, antologi puisi Potret bilik surga, antologi memoar “Dairy of Love” (dalam proses terbit) antologi puisi tema pernikahan (dalam proses terbit), dan antologi puisi tema Perempuan (dalam proses terbit).

1 Komentar untuk "Me Time Impian Saya "

  1. Masya Allah.. di tengah2 kesibukannya n mjd single parent masih bisa produktif menulis ya mba, kereen..

    BalasHapus

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel