Membuat anakku gila membaca

Saya sangat bersyukur ketika dulu masih gadis sering mengikuti seminar tentang berumah tangga dan juga parenting. Padahal saat itu masih awal duduk di bangku kuliah dan tentu belum berfikir untuk berumah tangga.  Boleh dibilang sebuah keberuntungan saya bergaul dengan orang-orang yang melihat hidup jauh ke masa depan. Karena meskipun saya masih gadis masih jauh dari berumah tanggah toh kelak akan tiba masa saya berumah tangga dan memiliki anak. 

Berawal dari mengikuti training pra nikah beberapa minggu, membuat saya memiliki mimpi rumah tangga seperti apa yang ingin saya miliki. Tentu saya harus menikah dengan pria yang satu misi dan visi kehidupan agar mimpi saya terwujud. Sungguh Alloh maha baik satu demi satu mimpi saya terwujud dengan seorang pria yang satu tujuan hidup.

Sebuah mimpi saya adalah memiliki anak yang hobby membaca, kalau kata ustad faudzil adhim anak gila membaca.  Waktu itu saya juga masih gadis mengikuti seminar “Indahnya pernikahan Dini”  dalam seminar itu ustad membahas sedikit tentang anaknya yang gila membaca. Dan berbagi resep bagaimana membuat anak gila membaca. Saya menerapkan apa yang ustad ajarkan, dan Alhamdulillah anak pertama saya Rahma Amalia  sama dengan saya gila membaca buku. 

Saya memulai proses membuat anak gila membaca dari dalam kandungan.  Mengandung anak pertama dengan kondisi rumah tangga yang masih serba carut marut ekonomi yang belum setabil, indah deh kalau di kenang.  Saya selalu menyempatkan untuk membaca apa saja yang bisa saya baca. Entah koran bekas, sobekan kertas bungkus cabe dari warung pokoknya apa saja bisa jadi bahan bacaan. Kondisi ekonomi yang merayap membuat saya berfikir ulang untuk beli buku.  Jadi membaca apa saja yang saya temui kalau tidak ada ya baca Alquran juga suah cukup. Setiap hari rutin membaca selama hamil ini resep dari ustad Faudzil Adhim.

Setelah anak lahir mulai dengan proses selanjutnya masih dengan membetuk anak gila membaca. Semasa bayi saya rutin membacakan buku untuk si kecil, buku cerita anak-anak , majalah anak –anak.  jangan membayangkan saya beli buku yang mahal di etalase toko buku ya. Saya beli majalah bobo atau buku cerita yang diobral murah meriah.  Atau beli yang sudah lewat episodenya karena harganya lebih murah. Yang penting saya rutin membacakan buku untuk anak.

Ketika rahma mulai suka bermain maka saya mulai mengenalkan buku untuk bermain. Tidak masalah bagi saya ketika buku itu lecek atau sobek yang penting dia kenal buku. Selanjutnya mulai kenal dengan aneka gambar dalam buku, mencoret-coretnya, melipatnya atau menyobeknya. Biarkan dia kenal buku cinta buku dan penasaran dengan isi buku. Maka itu saya memilih yang murah kan gak rugi amat kalau bukunya rusak. Nah ini emak-emak banget enggak mau rugi.

Membacakan buku untuk rahma masih berjalan rutin sampai bisa membaca  buku sendiri. Saya tidak pernah mengenalkan anak dengan huruf atau memaksa anak untuk cepat bisa membaca. Sesuai saran kak Seto anak baru boleh kenal huruf pada usia lebih dari 6 tahun. Ini juga saya terapkan walau disekolah TK sudah di ajarkan tapi dirumah tidak saya tuntut untuk belajar.  Ketika umur 6 tahun dan mulai belajar membaca disekolah rahma sangat antusias untuk bisa membaca dan motivasi terbesarnya adalah agar bisa baca buku sendiri tanpa menunggu ummi membacakan.

Usia 7 tahun Rahma sudah lancar membaca buku cerita bahkan 1 majalah BOBO bisa langsung habis di baca dalam satu hari. Beneran ini bikin kepala saya cekot-cekot karena setiap hari mau beli buku bacaan jebol deh dompet emak. Tapi ya memang sudah diniatkan maka saya selalu menganggarkan untuk beli buku. 

Kalau sekarang di usia 9 tahun Rahma bisa melahap buku apa saja yang menarik. Tentu yang paling menarik adalah buku cerita, komik dan novel anak-anak.  berhubung sekarang sudah mulai bisa memilih buku sendiri saya tentu ekstra hati-hati memilihkan buku untuknya. Semua buku yang dibeli wajib disortir dulu, karena banyak lho komik atau novel anak yang muatannya tidak sesuai umur anak.  Sebelum membeli buku saya biasa baca sinopsisnya dulu, bahkan saya sering ikut membaca buku-buku bacaan anak. ya setidaknya bisa buat bahan menasehati anak juga. 

Rahma sekarang sudah mulai saya kenalkan dengan buku yang mengandung motivasi di masa depan. Contoh bukunya karya Andrea Hirata laskar pelangi dan sang pemimpi,  bukunya A.Fuadi negeri 5 menara, juga serial anak karya Tere Liye. Bukunya lumayan berat isinya tapi syarat dengan hikmah, nasehat dan motivasi. Dan buku yang tebal ratusan halaman bisa habis dibaca tak kurang dari 24 jam. Semua buku yang sudah dibaca tersusun rapi dalam lemari, ketika semua telah dibaca maka tak pernah bosan untuk mengulang membaca tiap buku tersebut. 

Setiap kali selesai membaca satu buku maka selanjutnya diskusi tentang isi buku tersebut. Kalau saya belum membaca maka tugas nya menceritakan isi buku tersebut kepada saya. Kalau saya sudah membaca maka saya akan bertanya apa pelajaran yang diambil dari buku yang dibaca. Membaca buku membuat hubungan saya dan anak semakin dekat. Buku bisa menjadi sarana untuk menasehati tanpa menggurui. Buku adalah sahabat terbaik untuk orangtua dan anak.

Ummu Arrahma
3 Maret 2017

#ODOPminggu9
#tulisan5
#memoarcintaanak
#kabolmenulis10
#day5

Belum ada Komentar untuk " "

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel