Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah



NICE HOME WORK #3
Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Saya adalah singel parent yang mendidik anak sendirian tanpa di dampingi suami. Takdir kehidupan yang di tetapkan oleh Alloh adalah hal yang terbaik, maka tidak seharusnya menjadikan kehilangan menjadi sebuah penghalang bagi kami untuk bahagia. Bersama anak-anak saya menata hidup kembali.
Setelah belajar bersama di group matrikulasi Institute Ibu Profesional tentang membangun peradaban dari dalam rumah, membuat saya semakin banyak belajar. Saya belajar untuk emperaktekan satu persatu sesuai dengan apa yang mampu saya terapkan dalam keluarga kecil saya.
1.      “Tanda penghormatan” sisi baik Ayah dari anak-anak.
Semasa hidupnya suami adalah figur yang sangat low profile. Beliau bisa menjadi orang yang sangat lembut kepada anak dan juga istri. Ada kalanya menjadi tegas untuk hal-hal yang prisip seperti sholat tepat waktu, acara televisi yang boleh ditonton anak-anak, hal lain yang prinsipnya dilarang dan berakibat buruk.

Sebagai kepala keluarga yang mau turun tangan membantu urusan rumah tangga dan anak-anak. Nasehat beliau sangat lembut, bahkan sangat membekas dihati, sehingga ketika beliau pergi saya sebagai seorang istri tidak kehilangan pegangan hidup. Karena semua sudah tertuang dalam nasehat sepanjang 9 tahun bersama.

Saya mencoba untuk melanjutkan visi dan misi rumah tangga ini menuju surga Alloh. Semoga seperti harapan beliau kelak kami berkumpul kembali di surga. Aamiin

2.      Anak-anak dan potensi kekuatan diri yang dimiliki.

a.      Rahma Amalia umur 10 tahun
Rahma anak yang sangat mudah bergaul, termasuk anak yang cerdas secara akademik namun kurang cekatan dalam keterampilan. Selalu ingin belajar banyak hal, hampir semua kegiatan ingin di ikuti dari memanah, menulis, menari, les bahasa inggris dan lain-lain.

Rahma anak yang sangat mandiri, baik di rumah ataupun disekolah. Suka membantu teman-temannya. Mungkin karena kehilangan Ayahnya sejak umur 8 tahun sehingga nampak dewasa dibandingkan teman sebaya.

Sangat menyukai membaca buku sejak umur 2 tahun, buku yang dibaca aneka macam dari majalah anak, buku sains, novel anak hampir semua genre buku anak disukai. Buku yang dibaca harus dengan persetujuan saya sebagai umminya. Hal ini bertujuan menghindari membaca buku yang tidak sesuai dengan usia.
Selain membaca juga sangat suka menulis, sejak kelas 1 SD tulisan cerpen sudah di cetak untuk sekolah nya. Pernah meraih juara 1 lomba menulis cerpen di sekolah.

Rahma anak yang ekspresif, mudah marah, mudah pula memaafkan. Sangat melindungi adiknya. Suka bercerita apa saja yang dialami baik saat di sekolah, di rumah atau dimanapun kepada anggota keluarga.

b.      Asma’ Hanifah Arrahma berumur 5 tahun
Hanifah anak yang ceria, selalu bernyanyi tertawa dan memiliki banyak teman. Namun hanifah sangat sensitif, mudah bersedih, hatinya sangat lembut. Mudah akrab dengan orang lain dilingkungan yang baru.

Hanifah anak yang kreatif suka mainan membungkus kado, membuat mainan dengan alat yang ada di sekitarnya. Rasa ingin tahunya luar biasa, memiliki kepercayaan diri yang cukup baik, suka tampil dalam kegiatan sekolah.

Hanifah sangat menyayangi mbak Rahma, Eyang Utie, Eyang Kakung, dan juga Ummi. Hanifa suka berbagi makanan kepada siapa saja. Di sekolah sangat disukai teman-temannya jika membawa bekal semua teman dan ibu guru selalu diberi.

Namun sangat mudah menangis jika merasa tersakiti hatinya, sering merindukan ayah. Jika malam masih suka menginggau memanggil Ayah, namun sangat mudah mengerti jika diberi penjelasan tentang kehilangan.

3.      Potensi diri saya sebagai singel parent.
Saya adalah wanita yang mandiri sejak gadis, mungkin karena saya menjadi anak rantau sejak lulus SMP hingga kuliah. Sebagai anak rantau maka terbiasa memutuskan banyak hal sendiri dengan pertimbangan yang sangat matang. Menjadi anak rantau membuat saya mengeksplor banyak potensi diri, terlebih semenjak saya menikah dan melalui banyak ujian kehidupan. \

Baiklah akan saya sebutkan beberapa potensi diri yang saya miliki:

a.       Tertarik dunia bisnis
Dunia bisnis bukanlah hal baru bagi saya, hanya saja tidak mengeksplor potensi saya dalam dunia bisnis. Hingga tiba masa ketika suami kena PHK dan saya menjadi tulang punggung keluarga. The power of kepepet akhirnya saya kembali mengeksplor kemampuan bisnis. Aneka bisnis saya geluti dari bisnis kuliner membuat brownis, ice cream, bakpao, donat dan aneka makanan lainnya.
Kemudian mencoba bisnis kain batik, bisnis aneka barang online. Untung rugi, di tipu oleh produsen pun saya alami. Namun semua tidak membuat saya patah semangat.

Dari potensi bisnis ini saya memiliki cita-cita kelak ingin memiliki sebuah brand produk karya saya yang produksi dan penjualannya dilakukan oleh para singel parent. Saya sangat ingin membuat lapangan pekerjaan bagi singel parent sehingga mereka mandiri, sejahtera dan dihargai.

b.       Saya tertarik dengan ilmu kepenulisan.
Awal saya terjun didunia menulis adalah saat menjalani masa iddah. Saya mengalami depresi, insomnia parah hingga kurus kering berat badan turun lebih dari 10 kg. Malam-malam menjadi terasa panjang, lalu saya memanfaatkan insomnia dengan menulis di facebook.

Ternyata tulisan-tulisan saya direspon positif, bahkan saat itu ada teman meminta saya menulis novel kisah hidup saya dan beliau menawarkan untuk menerbitkan. Sayangnya ilmu saya masih nol, usaha saya menulis jalan ditempat.

Seiring berjalannya waktu ternya ketertarikan saya terhadap dunia menulis bukan hanya sementara karena insomnia. Tetapi justru semakin membuat saya terpesona, mendapat banyak manfaat bagi diri saya. Saya menabung mengikuti aneka training kepenulisan baik yang gratis maupun yang berbayar.

Ternyata di dunia menulis saya menjadi pribadi yang positif, selalu semangat untuk belajar berbagai ilmu untuk menunjang tulisan-tulisan saya. Selamat tinggal insomnia, hidup saya penuh semangat dan saya benar-benar move on dari sakitnya kehilangan.

c.       Saya suka berkomunitas
Sejak kuliah saya aktif dalam berbagai organisasi, sehingga terbiasa bergaul dengan banyak orang. Dari pengalaman saya berorganisasi membuat saya mudah sekali bergabung dalam komunitas ibu-ibu. Komunitas disini adalah komunitas yang berdampak positif, bukan yang hanya suka berselfi, atau bersaing dalam penampilan seperti ibu-ibu sosialita. Saya aktif di dua komunitas yaitu sedekah nasi Metro dan komunitas rajut Metro.

Dengan berkomunitas membuat saya belajar bergaul dengan aneka karakter, belajar menghargai orang, belajar menerima perbedaan, belajar bersikap santun dan belajar manjeman emosi.

Dari sekian banyak potensi yang saya miliki, tentu ada banyak sekali kekurangan dalam diri saya. Karena saya adalah manusia yang begitu banyak kekurangnnya maka saya ingin potensi yang saya miliki dapat mengurangi bergitu banyak kekurangan yang saya miliki. Adapun diantar kekurangan yang saya miliki dan berdampak kepada potensi diri:

·         Keras kepala
Saya memiliki sikap keras kepala, apa yang sudah menjadi keputusan maka akan sulit sekali untuk dirubah tanpa sebuah alasan yang kuat.

·         Idialis
Saya boleh dikatakan memiliki pribadi yang idialis, segala sesuatu harus sesuai dengan prosedur yang ada. Kadang kala sikap saya ini menjadi benturan dalam membuat keputusan bersama banyak pihak.

Dari potensi dan kekurangan yang saya miliki tersebut saya menyadari bahwa semua ada hikmahnya. Ujian-ujian kehidupan bahkan kehilangan pendamping hidup adalah takdir yang sarat dengan hikmah. Karena Alloh tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya, saya pasti mampu menghadapi ujian kehidupan yang Alloh berikan.

Anak-anak yang luar biasa kuat memaksa saya untuk menjadi Ibu yang tangguh. Jika saya sebagai seorang ibu hancur karena takdir maka nasib anak-anak akan lebih hancur. Oleh karenanya saya terus belajar menjadi kuat, belajar untuk bangkit menata kembali kehidupan ini.

Dengan segala potensi yang ada saya terus berproses mengembangkan diri agar move on dari kehacuran. Saya percaya “ apapun yang hilang dalam kehidupan ini baik di ambil Alloh ataupun diambil manusia maka akan ada ganti yang berkali lipat lebih baik.”
Alloh telah mengganti kehilangan pendamping hidup dengan banyaknya teman-teman dalam kebaikan, ilmu yang tiada henti mengalir, jalan rizki yang tak terduga pun sering mengalir.

Anugerah yang terindah adalah anak-anak dengan potensinya masing-masing yang selalu membuat saya bangga memiliki mereka, senyum yang menghilangkan segala lelah yang mendera. Tidak pernah menuntut hal-hal yang berlebihan. Semoga anak-anak kelak akan menjadi kebanggaan kami sebagai orangtua baik di dunia maupun di akherat. Aamiin

4.      Lingkungan disekitar.
Saya tinggal di kampung yang mayoritas penduduknya adalah petani dengan tingkat pendidikan yang beraneka ragam. Mayoritas penduduknya bersuku jawa, meskipun ada beberapa yang berbeda suku namun hubungan sangat harmonis.

Saya sebagai wanita yang bekerja dari pagi hingga siang hari, sangat jarang keluar rumah untuk bercengkrama dengan tetangga. Saya lebih senang waktu yang ada untuk istirahat dan bercengkrama dengan anak-anak.

Status saya yang singel parent sangat sensitif terhadap cara pandang warga sekitar. Jika ada tamu laki-laki ke rumah sangat mudah menjadi fitnah, dan bahan ghibah. Saya sangat bersyukur kedua orangtua saya sangat paham dengan kondisi ini. Sehingga jika ada tamu laki-laki kedua orangtua pun mendampingi.

Saya sangat menjaga diri cara bergaul dengan lawan jenis, menjaga hijab, dan tidak pernah berdandan yang berlebihan atau keluar rumah hingga larut malam. Cara pandang warga sekitar yang mudah menduga-duga dengan status saya membuat saya semakin menjaga diri. Bahkan saya keluar dari rumah atau bepergian hanya untuk bekerja, antar jemput anak dan kepentingan lain yang sangat urgen.

Saya menyadari tidak akan bisa merubah cara pandang warga sekitar, tetapi harus diambil sisi positifnya yaitu menjadikan diri lebih terjaga dari fitnah. Serta selalu libatkan Alloh dalam segala hal agar semua menjadi mudah dan lebih terarah dengan aturan Alloh.

Demikian yang dapat saya buat dalam NHW#3 kali ini, tak terasa panjang sekali tulisannya. Semoga tulisan ini dapat diaplikasikan, dapat menjadi manfaat bagi saya yang menulis maupun bagi siapa saja yang membaca.

Semoga tugas NHW#3 ini mendapatkan badge yang ke tiga. Kemarin sudah mendapatkan badge ke dua dari NHW#2. Semoga hingga akhir dapat mengoleksi badge cantik yang membuat saya selalu semangat dan terinspirasi untuk terus belajar.

Belum ada Komentar untuk "Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah "

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel