Aku dan Menulis


Menulis dipagi hari saat libur adalah mood boster terbaik



Menulis adalah kegiatan yang paling aku nikmati, dalam tiap kata yang kurangkai menjadi bait-bait paragraf adalah bahasa jiwa. Aku bebas bercerita tentang ide-ide yang melintas, suara hati yang tak terlepas melalui ucapan. Aku bahkan  mampu melepaskan segala rasa dalam setiap tulisanku. 

Tahun 2016 adalah awal menyukai dunia menulis, kala itu aku kehilangan sosok tempat berbagi kisah hidup yang kulalui tiap menit. Aku sosok wanita yang manja suka bercerita segala hal dengan aneka ekspresi tentunya. Tiba-tiba harus kehilangan satu-satunya sosok yang setia mendengar setiap celotehku. Aku bingung bertempuk segala rasa di hati bercampur rindu yang tak tertuntaskan. 

Malam-malam menjadi begitu panjang seakan menanti pagi adalah siksaan. Akhirnya berselancar di dunia maya. Media sosial menjadi hiburan, seiring berjalannya waktu akhirnya menulis status dengan curahan hati yang terpendam. Tanpa disadari ternyata menulis di media sosial menjadi candu bagiku. Nyatanya menulis mengobati kehilangan ku. Aku menemukan tempat untuk berbagi cerita melalui tulisan-tulisanku. 
 
menulis adalah cara menuntaskan rindu
Menulis membuatku tersenyum kembali, semangat hidupku meletup-letup. Aku berhasil melalui fase kahilangan dengan tulisan-tulisan yang berawal dari curhatan menjadi sharing-sharing yang bermakna. Menulis menjadi candu bagiku, namun aku tahu tulisanku belum berkualitas. 

Jatuh cinta pada dunia menulis membuatku semangat belajar tentang ilmu menulis. Bergabung dengan beberapa komunitas menulis, yang aku ikuti pertama kali adalah IIDN atau Ibu-Ibu Doyan Nulis. Karena aku seorang Ibu tentu saja aku lebih tertarik bergabung dengan komunitas ibu-ibu. Berbagai training baik yang gratis atau berbayar aku ikuti demi rasa penasaranku kepada dunia menulis. 

Pada suatu hari IIDN mengadakan lomba menulis dalam rangka memperingati hari Ibu di tahun 2016. Tulisan tepilih akan di bukukan dalam buku antologi dengan judul Bangga Menjadi Ibu. Belum percaya diri sebenarnya, namun berucap Bismillah akhirnya aku mencoba mengikuti lomba tersebut. Tulisan sederhana tentang perjuangan  menjadi seorang ibu tunggal dari dua putri yang special. Jatuh bangun seorang ibu menguatkan anak-anak kala dirinya sendiri rapuh menghadapi kehilangan pasangan jiwa. 

Hingga tiba waktu pengumuman finalis yang tulisannya terpilih untuk di bukukan. Alhamdulillah tulisan aku yang berjudul “Anak Memaksaku Menjadi Tangguh” terpilih menjadi finalis yang dibukukan. Sungguh bahagia tak terkira, tenyata tulisan aku yang biasa-biasa saja masuk dalam tulisan terpilih. Lebih berkesan lagi ketika apa yang kutulis dalam buku tersebut menginspirasi para ibu-ibu untuk tangguh menghadapi setiap ujian hidup. 

Tulisan aku yang masuk finalis dalam lomba.

 
Buku antologi pertama yang bikin aku makin jatuh cinta dengan dunia menulis
Bersyukur ketika aku terdampar dalam kehilangan hingga mengenal dunia menulis yang membuatku menjadi hidup kembali. Menemukan semangat hidup kala terjatuh menjadi berkesan karena apa yang kulalui kuabadikan dalam tulisan-tulisan. bersyukur aku tidak mengalihkan rasa kehilangan dengan hal-hal yang merugikan tetapi justru bermanfaat baik bagi diriku dan orang lain. Menulis adalah mengukir sejarah kehidupan, dengan harapan ketika nanti aku tiada setiap tulisan ini adalah warisan abadi bagi anak-anakku, keluargaku, dan pembaca setia tulisanku. 

cinta saja tak cukup ternyata, karena rasa cintaku pada dunia menulis masih butuh perjuangan panjang. aku masih merasa ilmuku sangat dangkal, ingin terus belajar dan belajar tentang dunia menulis. Menjadi working mom, singgel mom dan mom writer adalah kombinasi yang sangat kompleks. aku butuh banyak penyemangat dalam melakukan begitu banyak amanah. Aku sering kali kelelahan, kehabisan energi dan tentu semangat yang naik turun. konsitenitas dalam menulis harus terus di tumbuhkan.


  • semangat menulis yang pasang surut harus ada yang memaksaku untuk terus menulis dan belajar. oleh karena itu aku ingin bergabung dengan One Day One Post agar aku termotivasi dengan para penulis lain yang konsisten untuk menulis. agar semangat para penulis yang konsisten terus menulis menular pada diriku.

Tulisan aku tentang kecintaan pada dunia menulis: 

Mari menulis dari hati agar sampai ke hati.... 


20 Komentar untuk "Aku dan Menulis"

  1. Menulis mampu mengobati segala duka lara, melalui curhatan yang nembangun, semangat mbak, semoga sukses terus dengn buku berikutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin makasih mbak Sunarti😘😍

      Hapus
  2. Menulisnya yg menurut ak mudah mba namun mood untuk memulainya itu yg selalu berat dan susah kadang ada aja ujian dan halangannya heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mbak nulis tanpa mood itu rasanya hambar ya.

      Hapus
  3. Menulis bisa jadi pengobat hati Mbak..dan saya membuktikannya sendiri.
    Semoga makin sukses di hobi menulis yang ditekuni ini yaa:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyup betul mbak Terapy jiwa. Aamiin makasih mbak

      Hapus
  4. Saya juga mulai produktinya 2016, Mbak. Akhirnya keterusan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak kan kita satu angkatan SP ya...
      Tapi dirimu melejit luar biasa keren... Semoga bisa ikutan sukses ya saya aamiin

      Hapus
  5. Alhamdulillah ... menulis bisa jadi obat terapi jiwa ya mbak.
    Bismillah makin produktiv menulis ya mbak 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin terimakasih mbak semoga kita terus Istiqomah menulis dan sukses dunia akhirat aamiin

      Hapus
  6. Kok sama mbak, karena Buku Bangga Menjadi Ibu saya jadi semangat menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sehati kita ya mbak 😍😍😍

      Hapus
  7. Whuaa sama mbaaa, buku Bangga Jadi Ibu itu awal kecintaan saya terhadap dunia menulis, semacam pengesahan mantap sebagai penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya rasanya jadi penyemangat ya. Sama sama kita nih jebolan Indiscrip dan JA.

      Hapus
  8. Menulis sejak lama kemudian berhenti, kalah dengan rutinitas emak-emak. Sampai suatu hari aku jatuh, aku kembali ke titik nol, bolak balik dokter untuk terapi rasanya masih belum bisa membantu banyak. Tapi ajaibnya setelah mulai menulis lagi aku merasa pelan-pelan bisa terbantu. Pertama kali menulis aku pakai tagar self healing dan semacamnya. Menyemangati diri sendiri utk bisa survive tanpa harus bolak balik dokter. Writing is healing. Writing is things I can't say out loud.

    BalasHapus
  9. Menulis itu bikin sehat jiwa raga ya mbak juga bikin bahagia... Yang pasti juga buat kita banyak belajar hal baru ilmu baru kenalan baru senang deh....

    BalasHapus
  10. Menulis. Saya menemukan dunia menulis lagi Maret 2018 setelah 22 tahun vakum. Hei heloow kemana sekian lama? Saya tergilas oleh roda aktivitas sehari-hari yang tak memberiku kesempatan. Dan sekarang saatnya mengejar ketettinggalanku. Belajar lagi. Rindu menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mbak mari berlari memgejar impian di dunia menulis....

      Hapus
  11. Betul. Menulis dari hati akan sampai ke hati. Kalimat ini bikin aq ingat masa kuliah, Mak. Love you

    BalasHapus

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel