Aku Adalah Ulat Yang Bermetamorfosis Menjadi Kupu-Kupu



pixabay.com

Persahabatan bagai kepongpong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepongpong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepongpong
Maklumi temna hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepongpong
Na na na na
(lirik reff lagu kepongpong)

Pasti semua hafal dengan lagu yang sempat hits beberapa tahun lalu ya,
Kita enggak mau nyanyi bareng kok, ingin sedikit mengupas tentang lirik lagu tersebut yang erat kaitannya dengan kisah kehidupan manusia.


Persahabatan bagai kepongpong mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Kalimat tersebut sangat sarat makna. Tanpa disadari kita sebagai mahluk sosial kerap kali berubah menjadi baik karena sahabat-sahabat yang mengelilinngi kita.  Menjadi solihah karena bersahabat dengan orang solihah, sahabat yang membimbing ke jalan ketaatan kepada Alloh. 

Saya sendiri mengalami sekali menjadi ulat yang  bergerak lambat, bahkan hanya mengenal dunia di sekitar kita saja.  Bergelung dengan rasa sepi, duka, dan airmata ( sedih ya, jangan baper ya). Waktu itu saya belum mengenal dunia menulis. Saya masih mencari cara agar dapat kembali hidup dan bersemangat.  Tahulah rasanya kehilangan pasti sedih, kehilangan uang aja sedih apalagi kehilangan belahan jiwa. Berasa sekali ini jadi ulet Cuma bisa kluget-kluget di satu tempat. 

Sebagai mahluk sosial aku pun punya banyak teman, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya (asal bukan dari dunia gaib). Setiap hari mereka silih berganti menghibur dan menyemangati agar hidup terus berjalan.  Motivasi tiada henti mengalir menghiasi hari, membuatku kembali bangkit dan menata hati. 

Era digital turut membantuku bangkit, mengenal banyak orang yang menginspirasi.  Bermodalkan gawai aku mulai membuka diri dengan hal-hal baru. Bermula dari media sosial facebook aku sering mencurahkan isi hati melalui tulisan, tak kusangka banyak yang menyukai tulisanku. Hingga aku merasa menulis adalah dunia baru yang menyenangkan. Tak jarang ada beberapa orang yang share tulisan-tulisan tersebut. 

Memberanikan diri untuk lebih serius terjun di dunia menuli, mulai bergabung dengan group-group menulis di facebook. Group yang pertama kali saya ikuti adalah group Ibu-Ibu Doyan Nulis yang di komandani oleh teh Indari Mastuti.  Group yang berisi Ibu-Ibu yang  inspiraif,  tulisannya pun bagus dan inspiratif. Pelan tapi pasti aku terus belajar dan belajar. Belajar dengan media gawai sangat mudah sekali karena dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Belajar tak lagi sebatas meja dan kertas. Gawai membuatku menjelajahi dunia. 

Tak terasa hampir dua tahun aku melanglang buana menikmati proses menjadi penulis. Berbagai genre tulisan aku coba, bergabung dengan banyak komunitas, bersahabat dengan banyak orang yang berasal dari berbagai pulau, bahkan negara lain. 

Tak ada usaha yang menghianati hasil, salah satu quotes yang aku ingat. Benar sekali memang setiap usaha pasti ada hasilnya. Melalui tulisan-tulisan saya mendapat manfaat selain teman yang banyak, bertambahnya ilmu, saya juga mengasilkan recehan hingga amplop-amplop yang berisi lembaran rupiah, atau transferan dari berbagai job menulis. 

Menulis benar-benar menyenangkan apalagi kalau ada amplop yang ikut meramaikan. Saya bergabung dengan komunitas tapis blogger yang sering mendapat undangan untuk meiput kegiatan. Kalau yang namanya kerja sama pasti tujuannya saling menguntungkan dong. Nah, ketika ada kegiatan yang di liput biasanya blogger yang bertugas mendapatkan amplop sebagai ganti uang transport dan ucapan terima kasih. Enggak banyak tapi selalu menjadi salah satu penghias senyuman. Nah, benarkan setiap usaha pasti ada hasilnya, meskipun tujuan saya menulis bukan untuk mencari amplop atau penghasilan. 

Saya adalah ulat yang berhasil menjadi kupu-kupu karena motivasi dan semangat dari sahabat-sahabat. Meskipun dengan sahabat dunia maya yang belum berjumpa secara nyata, namun energi persahabatan yang tulus menghantarkan saya menadi manusia baru. Gawai ternyata menjadi jendela yang membuat saya mengenal dunia, membuat saya berpikir lebih luas memandang dari banyak sudut pandang. Setiap tindakan yang diniatkan untuk kebaikan akan selalu menghasilkan yakin saja deh. Bukti nyata saya dapat menghasilkan dari menulis meskipun mungkin masih recehan isi amplop saya tapi oke-oke saja toh itu adalah bonus, karena tujuannya bukan sekedar amplop. 

#ODOP6
#TantanganODOP1
#onedayonepost

23 Komentar untuk "Aku Adalah Ulat Yang Bermetamorfosis Menjadi Kupu-Kupu"

  1. Keren banget metamorfosanya untuk menjadi penulis, menginspirasi saya yang baru mulai belajar. Tetap semangat mbak 💪🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak masih berproses untuk belajar dan belajar. Mari saling menyemangati

      Hapus
  2. Mbak Ika mah emang keren ... nggak cuma pintar nulis, kalau nggak salah pintar panahan juga yo, mbak? Opo ngerajut yo, lupa aku hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merajut itu hobi yang jadi bisnis. Panahan itu olahraga yg menyenangkan mbak. Sayang sudah lama enggak latihan panahan mbak kehilangan kontak teman yg latihan. Mengisi waktu biar enggak merasa sendiri dan sepi. Makasih mbak Wiwid sudah mampir

      Hapus
  3. Semoga saya juga bisa jadi kupu-kupu ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semangat mbak nikmati saja proses jangan terlalu beharap hasil yg penting usaha dan berproses inshaAlloh hasilnya kita nikmati

      Hapus
  4. Setujuuu..
    Tak ada usaha yang menghianati hasil, jika kita berusaha pasti akan berhasil!

    BalasHapus
  5. Masha Allah, semoga berkah ya. Tetap berkarya, tulisan memotivasi.

    BalasHapus
  6. Saya juga mba, belum jadi kupu kupu yang indah. masih terus berproses semoga kita istiqomah ya mba.

    BalasHapus
  7. MasyaAllah ... Bertahan tetap kuat adalah bagian dari perjuangan hidup ya, Mbak. Kayaknya semua manusia memang harus mengalami metamorfosa karena perjalanan hidup nggak bisa begitu-begitu saja. Terus semangat!

    BalasHapus
  8. Masya Allah... saya pun masih menikmati prosesnya, masih jadi ulat nih.. hehee... makasih ya umm inspirasinya.

    BalasHapus
  9. Mbaak saya lemes liat ulat di awal artikel hahaha. Semangat Mbaaak, saya juga berusaha untuk konsisten nulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pobia ulat ul mbak hehehehe
      Semangat jangan kasih kendor pokoknya

      Hapus
  10. Setuju, jangan liat isi amplopnya tapi rasa puasnya itu yg lebih penting. Semangat mba

    BalasHapus
  11. Dan spontan diriku nyanyi wkwkwk. Bener mba kita harus ya selalu menjadi lebih baik, pastinya berubah menjadi lebih bermanfaat seperti kupu yang cantik.

    BalasHapus
  12. Wah asyik yaa berkomunitas dengan orang-orang yang se-hobi. Dan ini tengah saya jalani. Belajar dan trus bljar juga mncari teman yang bisa memberi saya semngat dlm menulis. Top dehh mnfaat bnget tulisan mb..mksh ya..

    BalasHapus
  13. Wah, luar biasa Mbak. Saya juga belum lama sih nyemplung literasi, baru dari 2017 lalu. Padahal gabung IIDN udah lama �� btw, judulnya mengingatkan aku pada salah satu antologi nubar yang lagi berlangsung deh.

    BalasHapus
  14. Benar sekali mbak. Nothinh is impossible ya. Kalau mau berjuang ya akan dapat hasil yang maksimal. Kalau niatan dlm menulis salah kayaknya cenderung tak bisa bertahan lama. Jadi siip kalau uang hanyalah bonus dr nulis. Hehe

    BalasHapus

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel