Pengantin



Amalia menghela nafas panjang, seakan mengurangi kegelisahan yang dirasakan. Bagaimana tidak gelisah di luar sana ada sosok yang belum Dia kenal sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Memang dia yang memutuskan menerima siapapun jodoh yang dipilihkan Abi. 

“Assalamuallaikum, boleh saya masuk?” tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam Mas, silahkan masuk.” Jawabku gugup 

“Hai, saya Muhamad Arfan panggil saja Arfan, atau apapun yang membuatmu nyaman. Aku sudah sah menjadi suamimu ” ucapnya  memperkenalkan diri

“ Iya mas, saya Amalia Istrimu,” jawab Dia sambil mengambil tangan Arfan dan  dicium penuh takzim  tanda hormat sebagai Istri. 

Kemudian Arfan membacakan doa pengantin dan mencium kening Amalia penuh sayang. Keduanya nampak gugup dan malu karena pertemuan pertama dan langsung mejadi sepasang suami istri.
“ Amalia, mari keluar ada beberapa kertas yang harus ditanda tanganni untuk kelengkapan berkas penikahan kita” ucap Arfan kepada Amalia

Amalia hanya menganggug dan mengikuti langkah Arfan, masih canggung untuk jalan bersisian. Kemudian menuju ke petugas KUA yang memberikan kertas yang mesti di tanda tangani. 

Setelah selesai urusan berkas, Amalia kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Karena resepsi akan diadakan esok hari, jadi bisa beistirahat. Bagaimanapun rasa gugup, jantung yang berdetak tak beraturan sangat menguras energi. Tak lama kemudian Arfan ikut masuk ke dalam kamar.

“Istriku kemarilah, aku ingin bicara.” Arfan menepuk tepi ranjang meminta istrinya duduk disampingnya.

“iya Mas,” jawab Amalia sambil mendekat dan duduk di samping Arfan

“ Ini buku nikahmu, simpan dengan baik” Arfan memberikan  buku nikah berwarna hijau. 

“ Buku nikah ini hanya kertas, namun ini adalah bukti kesungguhanku menjadikanmu halal. Kertas yang mengandung janji suci, dan tanggung jawab dunia akherat bagi kita berdua. Mungkin cinta dihatimu belum tumbuh tapi belajarlah untuk mencintai dengan mengenalku. Aku mencintaimu karena Alloh, dan aku tidak tahu kapan rasa ini hadir. Percayalah aku cinta kamu istriku” Arfan menggenggam jemari Amalia yang dingin karena gugup.

“ Insha Allah, semoga Alloh memberkahi penikahan ini Mas. Percayalah Mas rasa cinta ini mulai tumbuh saat Mas dengan berani melamarku kepada Abi.” Ucap Amalia menatap Arfan penuh cinta.

“ I love you bidadari bermata jeli,” ucap Arfan sambil memeluk Amalia yang pipinya merah merona karena malu dan bahagia.
#ODOP6

Belum ada Komentar untuk "Pengantin"

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel