Tiga Wanita Juru Bicara Zaman Rosululloh





Banyak orang berpendapat bahwa Islam membatasi ruang gerak kaum wanita, terutama dalam hal menyampaikan pendapat. Padahal sejarah Islam membuktikan ada 3 wanita di zaman Rosululloh yang sangat piawai dalam mengolah kata untuk menyuarakan pendapatnya. Bahkan mereka sangat dikenal dalam peristiwa bersejarah kaum muslimin dalam menyampaikan pendapat. Tiga Wanita ahli negosiasi tersebut  adalah :

Asma’ binti Yazid adalah wanita Madinah berasal dari Bangsawan Anshar. Sejak kecil beliau terdidik sangat baik. Sangat terkenal karena kepandaiannya dalam mengolah kata dengan sangat rasional. Hal tersebut sangat berdasar dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni. Asma’ sangat pintar dalam berpidato sehingga sering kali menyampaikan pendapat dan pemikiran yang bermanfaat bagi kaum muslimah. 

Peristiwa yang paling terkenal adalah ketika Asma’ menemui Rosululloh saw untuk bertanya tentang persoalan wanita. Salah satu pertanyaan yang sangat bermanfaat adalah ketika Asma’ bertanya tentang bagaimana wanita bisa menyemai pahala pria yang bisa berjihad dan melaksanakan keutamaan lain yang tidak dapat dilakukan oleh kaum wanita. 

Kemudian Rosululloh saw memberikan jawaban “wahai Asma’ pulanglah, ajarkan kepada para wanita bahwa taat kepada suami, mencari ridho suami, dan mendukung keputusannya, sama nilainya dengan pahala laki-laki yang kau sebutkan tadi”

Pertanyaan lain yang sangat terkenal adalah tentang seputar haid. Bagaimana seorang Asma’ mampu bertanya dengan sangat baik berdasarkan ilmu kepada Rasululloh tentang tata cara membersihkan darah haid sesuai ajaran Islam. Rosululloh memberikan jawaban dengan sangat jelas. Karena ke ahliannya dalam mengolah kata dan menyampaikan pendapat ataupun bertanya kepada Rosulullah saw maka Asma’ menjadi juru bicara kaum wanita. 

Urwah binti Harist adalah sepupu Rosululloh saw. Urwah adalah sosok wanita cerdas yang kritis dan fasih dalam menyuarakan pendapatnya. Aktif menyuarakan kebenaran meskipun Rosululloh saw telah tiada. 

Dalam catatan sejarah Islam ada peristiwa  yang menjadi saksi peran Urwah dalam bernegosiasi. Ketika itu terjadi persengketaan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan yang berujung dengan perang Shiffin. Urwah yang kala itu berada di pihak Ali sebagai sesama keturunan Bani Hasyim. Merasa tidak terima dan marah karena penghinaan terhadap Ali.

Urwah berinisiatif menemui Muawiyah di Damaskus. Dihadapan Muawiyah dan para petinggi yang ada disana, Urwah menyampaikan kelebihan Bani Hasyim dibandingkan Bani Umayyah nasab Muawiyah. Hal tersebut tentu memicu kemarahan pihak Bani Umayyah. Namun Muawiyah mampu menenangkan kaum Bani Umayyah dan meminta maaf kepada Urwah. Muawiyah sangat menghargai pendapar Urwah dan memaklumi tidakan Urwah.

Ummu Sinan binti Khaitsamah merupakan wanita pemberani dari golongan Tabi’in yang berani menyampaikan pendapat bahkan dalam majelis Muawiyah. Kala itu Ummu Sinan merasa diperlakukan secara tidak adil oleh Gubernur Madinah. Ia mengumpulkan perbekalan guna melakukan perjalanan ke Damaskus menemui Gubernur. 

Gubernur Madinah saat itu adalah Muawiyah. Di hadapan Muawiyah ia menuntut keadilan. Demi menghargai usaha Ummu Sinan maka Muawiyah menerima pengaduannya dengan sangat baik bahkan memenuhi tuntutannya. Selain itu Muawiyah memberikan perbekalan yang cukup untuk kembali ke Madinah.

Demikian kisah 3 wanita hebat yang sangat pandai bertutur kata guna bernegosiasi, berpidato bahkan menuntut hak nya dengan cara yang sangat baik. Dapat kita lihat dari kisah tersebut bagaimana Islam memuliakan seorang wanita. Islam memberikan kebebasan bagi muslimah untuk menyampaikan pendapatnya, selama  sesuai dengan aturan islam. Tak ada sejarah yang mengatakan Islam membelenggu kebebasan wanita dalam menyampaikan pendapat.

Belum ada Komentar untuk "Tiga Wanita Juru Bicara Zaman Rosululloh "

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel