Anakku Belajar Dari Bencana



28 September 2018 sore, berita duka itu menggemparkan seluruh penjuru Negeri bahkan mungkin penjuru dunia. Bagaimana tidak, ketika negeri tercinta beruntun di gempur bencana. Belum selesai dengan Lombok, delapan hari yang lalu kembali bagian lain dari Indonesia hancur, luluh latak karena bencana. 
Airmata belum kering, sudah kembali menangis bahkan lebih deras sulit rasanya membendungnya. Duka ini bukan milik Palu, Donggala,  Sigi, atau Pulau Sulawesi saja. Duka ini duka semua penduduk bumi. Siapa yang tak tergetar hatinya, siapa yang tak menangis pilu, siapa yang tak mengingat dosa dan mati ketika menyaksikan video kejadian bencana gempa dan tsunami. 
Siang itu, putri sulungku pulang sekolah, peluh bercucuran wajahnya pun nampak lelah. Namun, sorot matanya penuh dengan semangat, gerak tubuhnya tetap lincah berlarian mendekatiku di sudut sekolah.  Seperti biasa motor revo yang selalu setia membersamaiku mengantar jemput sekolah. Bertahun-tahun menjadi saksi betapa banyak kisah yang diceritakan Rahma di atas motor ini sepanjang perjalanan pulang sekolah. 
“Ummi, tahu tidak kenapa di Sulawesi kena bencana?” Tanyanya kepadaku siang itu di atas motor. 
“Ya karena Alloh berkehendak nak, Alloh sedang menguji negeri ini. Memang kenapa kok mbak tanya begitu?” aku menimpali pertanyaan Rahma. 
“ ih, Ummi bukan begitu kata teman aku karena disana ada pantai yang menyerupai mata satu. Makanya Alloh marah” 
“Astaqfirulloh nak, tidak, tidak jangan berkata seperti itu nak. Kita tidak berhak menilai takdir Alloh. Cukup maknai ini sebagai ujian dari Alloh. Alam ini milik Alloh, ciptaan Alloh, dan Alloh punya hak mau melakukan apapun atas miliknya.” Aku menjelaksan kepada anakku. 
Sungguh, miris mendengar ungkapan anakku. Anak-anak masih polos kita sebagai orangtua hendaknya berhati-hati bicara di depan mereka. Jangan ajari mereka berasumsi terhadap hal-hal yang sensitif. Bagaimanapun mereka belum paham apa yang di bicarakan orangtua. Pola pikir mereka hanya menyampaikan dari mulut ke mulut tanpa mereka pahami. 
Mereka yang menjadi korban bencana adalah saudara kita. Kita ini hanya hamba Tuhan yang enggak punya hak untuk menerjemahkan kemurkaan Tuhan. Tidak punya hak menebak-nebak makna dari sebuah bencana karena hal negatif di mata manusia. Aku, Kamu, dan semua paham fenomena alam yang jelas telah diterangkan oleh BMKG. Kondisi alam negeri ini berpotensi untuk menghadapi berbagai bencana alam baik itu banjir, longsor, gempa, tsunami atau fenomena alam lainnya. 

Terlepas dari ilmu pengetahuan yang dijelaskan oleh BMKG, sebagai makhluk beragama, saya sebagai seorang muslimah percaya di setiap kejadian ada hikmahnya. Demikian juga dengan bencana demi bencana yang terjadi dinegeri ini. Alloh menguji negeri ini agar terus bersatu, mengetuk nurani manusia lebih perduli dengan sesama tanpa melihat perbedaan agama, ras, suku, warna kulit, miskin atau kaya semua butuh pertolongan. Bencana menjadi ajang kita bersatu bahu membahu saling menguatkan mereka yang terluka. 

Bukan malah mengeluarkan statment negatif dalam pandangan manusia. Statment yang justru akan menyakiti hati mereka yang sudah berduka kehilangan sanak keluarga, harta benda, tempat tinggal, menahan lapar dan dahaga. Sedang saudara yang satu negeri ini apa yang kalian lakukan? Menghujat, komentar negatif layaknya netizen, lalu layak kah disebut hamba yang lebih baik dari mereka yang berusaha sabar menghadapi ujian. 
Aku peluk anakku, ku ajak mereka merenung. “Nak, jika Alloh berkehendak bencana itu menimpa kita, lalu ada yang berkata demikian kira-kira relakah dirimu? Sedangkan mereka tak pernah tahu kebaikan yang kamu lakukan, doa-doa yang melangit demi negeri ini. Tapi penilaian negatif yang kamu dapatkan, sedih kan” 

Ah, sungguh bencana-bencana yang terjadi hendaknya menggetarkan hati. Bukan malah membuatmu berkeras hati atau merasa ujub karena merasa lebih dari yang lain. sesungguhnya ibadah yang kita lakukan hanya Alloh yang tahu nilainya. Jangan nodai apa yang menjadi takdir  dengan komentar yang tidak pada tempatnya. 
Sebagai orangtua hendaknya kita menjadikan anak-anak berhati bersih, mudah berempati, mudah mengulurkan tangan menolong yang berduka. Hendaknya kita memeluk mereka dengan uraian airmata syukur karena masih mampu memeluk mereka dengan kasih sayang. Airmataku selalu meleleh jika membicarakan anak-anak. sungguh mereka adalah permata-permata indah yang kelak akan menjadi kunci surga para orangtua. 
Anak-anakku di Palu, salah satu dari mereka bernama Ghalib mamanya terbawa arus tsunami
Teruntuk anak-anakku di belahan bumi yang sedang berduka, doa ku untukmu terus mengalir laksana  Airmata ini tak pernah surut. Teruslah menguat nak, bangkit bangun negerimu. Buktikan pada dunia kalian adalah anak-anak tangguh yang menguat justru karena ujian Alloh. Buktikan kalian patut dibanggakan menjadi bagian terindah dari negeri ini. Ada kami ibu yang jauh dari ragamu namun selalu dekat dalam untaian doa kami. 

Apa yang diceritakan Rahma adalah sekelumit komentar negatif, masih banyak lagi yang mengatakan A.B, C. D,......masih banyak-banyak lagi yang tek perlu diungkap. ramai di media sosial berkomentar ini dan itu. Sungguh, tanya pada hatimu masihkan kalian punya hati? 
Yuk kita bertanya pada diri sendiri apa yang sudah kita sumbangkan bagi mereka?  Tenagakah, materi, doa, atau justru menyumbangkan luka dengan komentar yang enggak penting ?
#ODOP_6
#Tantangan_4
#nonfiksi

12 Komentar untuk "Anakku Belajar Dari Bencana"

  1. hampir sempurna penukisannya...hanya sedikit typo di kata tak perlu jd tek perlu... dan ini kata non baku hsrus dicetak miring kan... juga kata statement Ika nulisnya Statment overall good

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya bener makasih masukannya, Alhamdulillah nanti di perbaiki. Efek nulis sambil nangis hiks

      Hapus
  2. Terima kasih mba Ika atas tulisannya. Saya ikutan ngintip juga 😊

    BalasHapus
  3. Kita mesti bijak menyikapi bencana, perlu memikirkan perasaan orang lain sebelum mengatakan sesuatu tentang bencana

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. entahlah kalau saya baca ketentuannya ya demikian tapi aku juga enggak ngerti bener apa enggak ya.

      Hapus
    2. Semoga yang berada di Sulawesi dan sekitarnya selalu dalam lindungan-Nya .Aamiin

      Hapus
  5. Terimakasih tulisan ummi mengingatkan...

    BalasHapus
  6. sama-sama semoga bermanfaat. jazakillah sudah berkunjung.

    BalasHapus
  7. Mbak paragrafnya tak nampak hehehe...ini nih mo bilang di paragraf ke xxx yang bagian menjelaskan tentang "si mata satu" itu benar-benar mengena. Betapa di zaman hoax begini (entah yg mata satu bener atau ngga) yg penting adalah kembali pada memahami ujian dari Allah. Tidak menilai karena mereka ini dan itu. Astaghfirullah.
    terima kasih banyak postingannya mb :)

    BalasHapus
  8. semoga kita semua belajar memaknai sebuah bencana, bukan saling menyalahkan tapi bisa lebih saling membantu dan bersama

    BalasHapus

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel