Nyamuk, Lalat, dan Sang Ratu Bilqis





Pada Zaman dulu di Timur Tengah ada kerajaan yang sangat makmur, kaya raya dengan istana yang sangat megah. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang Ratu yang sangat cantik dan kaya raya, saking kayanya Sang Ratu selalu menggunakan pakaian berbahan khusus terbuat dari sutra. Istananya pun terbuat dari emas sehingga jika terkena siar matahari akan terlihat berkilauan. Ratu tersebut bernama Ratu Bilqis.

Sang Ratu memiliki pengawal yang sangat setia dan patuh terhadap perintahnya.  Pengawal tersebut adalah seekor burung kakak tua.  Bisa dikatakan pengawal sang Ratu merupakan telinga kanan Ratu untuk mencari informasi kejadian diluar istana. Setiap hari saat pagi dan sore hari burung kakak tua pergi, melihat apa saja diluar istana dan akan dilaporkan kepada Ratu.

Dibagian lain kerajaan Timur Tengah  yang sangat luas, lebih tepatnya di dalam hutan hiduplah Seorang Raja Penguasa hutan. Tetapi Sang Raja tidak hidup di sebuah Istana, meliankan  tinggal di gubug reot yang sangat kecil. Sang Raja hutan tersebut bernama Sulaiman,  tinggal sebatang kara tanpa adanya sanak saudara  yang mengurus. 

Raja Sulaiman adalah anak dari seorang Raja dari kerajaan di Timur Tengah. Raja Sulaiman di asingkan  kedalam hutan ketika terjadi perang kudeta dikerajaannya. Kedua orantuanya tewas dibunuh oleh orang-orang yang ingin menguasai kerajaan. 

Meskipun tinggal sebatang kara, Sulaiman menjadi raja hutan yang disayangi oleh penghuni hutan. Semua penghuni hutan sangat taat dan patuh kepada sulaiman. Sulaiman senang bercerita kepada seluruh penghuni hutan.

Pada suatu hari, dikerajaan Ratu Bilqis terjadi kehebohan yang menggemparkan seluruh kerajaan Timur Tengah. Ternyata, kehebohan tersebut terjadi karena Ratu Bilqis kehilangan sepasang anting-anting kesayangannya. Sang Ratu memerintah pengawal kepercayaannya untuk mencarinya. Burung kakak tua pun mengerahkan seluruh pengawal kerajaan untuk mencari anting-anting tersebut. 

Anting-anting yang hilang belum ditemukan juga bahkan sudah berminggu-minggu melakukan pencarian oleh para pengawal kerajaan.seluruh bagian negeri pun telah di jelajahi tetap tidak ada hasil. 

Pada akhirnya pengawal kerajaan Ratu Bilqis meminta bantuan kepada Sang Raja Hutan Sulaiman.  Raja Sulaiman yang bersedia membantu, dan mengumpukan seluruh penghuni hutan untuk memebuat rencana dan strategi pencarian.  Raja memilih ketua kelompok untuk memilih anak buah yang terlatih dalam melaksanakan misi pencarian anting-anting. 

Dibentuklah beberapa regu dimana setiap regu memiliki ketua yang wajib memberikan laporan sekecil apapun hasil pencarian yang dilakukan oleh regu yang telah direncanakan.  Dengan demikian akan menghasilkan kerja yang maksimal dan teratur.

Waktu sudah berlalu hingga 40 hari, namun pencarian masih belum ada hasilnya. Anting-anting Ratu Bilqis laksana ditelan bumi. Raja Sulaiman mengumpulkan kembali seluruh  ketua regu untuk melaporkan hasil kerjanya. Akhirnya Raja  mengambil keputusan dengan musyawarah bersama pemimpin regu. Melihat laporan yang diberikan masih jauh dari harapan, maka pencarian dihentikan.
Raja Sulaiman menyampaikan kepada pengawal sang Ratu, bahwa segala usaha sudah dilakukan untuk membantu pencarian. Seluruh tenaga dan pikiran pun sudah tercurah tetapi hasilnya masih belum sesuai harapan. Raja Sulaiman menyerah dan  menghentikan pencariannya. 

Setelah melapor kepada pengawal akan penghentan pencarian tersebut Raja Sulaiman kembali ke gubug nya. Saat istirahat Raja Sulaiman merenungkan laporan-laporan yang di sampaika oleh para ketua regu dengan hasil yang jauh dari harapan. Tiba-tiba ada tamu berkunjung ke gubug Raja Sulaiman.  Tamu yang datang adalah kancil dan burung betet. 

“Ada apa kepentingan apakah hingga kalian datang ke rumahku? “ Sang Raja bertanya kepada kedua tamunya. 

Kemudian kancil dan burung betet memberikan salam hormat kepada Raja, selanjutnya keduanya bercerita  tentang nyamuk dan lalat yang tidak melakukan pencarian anting-anting Ratu Bilqis. Mereka berdua hanya santai-santai tidak mau ikut serta melakukan pencarian. 

Kemudian dipanggilah nyamuk dan lalat untuk menghadap Raja Sulaiman. Keduanya ditanya kenapa tidak ikut melakukan pencarian anting-anting Ratu Bilqis. 

“Kami berdua tidak suka dengan Ratu Bilqis yang angkuh dan sombong itu, Paduka Raja.” Jawab keduanya serentak. 

Raja Sulaiman tidak marah kepada kedua rakyatnya yang tidak taat tersebut.  Tetapi keduanya telah melanggar perintah sang Raja sehingga tetap ada hukuman yang harus diberikan. Hukuman tersebut bertujuan agar  setiap rakyat penghuni hutan taat kepada Undang-Undang yang berlaku di kerajaan. Hal tersebut menjadi contoh untuk semua penghuni hutan bahwa sekecil apapun pelanggaran tetap akan ada  sanksi hukum. 

Hukuman yang diberikan kepada nyamuk dan lalat adalah tetap mencari anting-anting Ratu Bilqis  sampai di temukan dan tak ada batas waktu.  Raja Sulaiman tidak memberi batasan waktu masa pencarian kepada lalat dan nyamuk. 

Sampai sekarang nyamuk masih setia menjalankan perintah Raja Sulaiman. Nyamuk selalu  mengitari telinga orang yang ditemui.  Tujuannya adalah mencari orang yang memakai anting-anting Ratu Bilqis. 

Demikian juga dengan Lalat sampai sekarang masih mencari anting-anting Ratu Bilqis. Lalat mencarinya disetiap tempat sampah  diseluruh dunia. Lalat berharap orang yang mencuri anting-anting Ratu Bilqis sudah bosan dan membuang di kotak sampah.

Pesan Cerita:
Tidak taat hukum atau perintah itu tidak baik apapun alasannya, karena pasti akan ada sanksi yang tidak menyenangkan. Tema-teman semoga kita selalu taat baik kepada orangtua tau taat pada aturan negara.

Referensi :  www.dongenganakdunia.com
(Diceritakan Kembali oleh : Ummu Arrahma)

Belum ada Komentar untuk "Nyamuk, Lalat, dan Sang Ratu Bilqis"

Posting Komentar

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel