Ibu Pekerja Dalam Pandangan Islam


Dr. Heru Wahyudi.M.Si


Ibu adalah salah satu subjek yang menarik untuk dibahas. Menggali kisah seorang ibu tentu sangat luas bahkan tiada henti. Kiprah seorang ibu bukan hal yang sepele, karena dari seorang ibu terlahir generasi penerus negeri. Setiap Ibu memiliki keunikan dalam melakukan perannya.Bahkan Islam memuliakan seorang Ibu. Pandangan Islam terhadap sosok Ibu sangat luas dan dalam.

Sebagai seorang Ibu pekerja, sering kali menghadapi situasi yang penuh dengan dilema. Benturan dalam rumah tangga maupun  lingkungan instansi kerja tentu menjadi warna tersendiri. Seorang Ibu pekerja memiliki dua dunia yang berbeda, dimana keduanya tidak bisa dicampur aduk.

Kali ini saya ingin menuliskan hasil wawancara saya dengan seorang Doktor yang berprofesi sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila Bandar Lampung. Saya lebih suka memanggil Ustadz Heru karena selain menjadi dosen beliau adalah ustadz dengan ilmu yang sangat mumpuni.

Wawancara saya bukan tentang ekonomi atau terkait hal akademi. Tetapi kali ini saya ingin wawancara dengan beliau sebagai seorang ustadz. Masih berkaitan dengan tema Ibu pekerja yang saya angkat di awal tulisan ini. Obrolan atau wawancara ini bertema tentang Ibu pekerja dalam pandangan Islam.

Baiklah saya akan tuliskan hasil wawancara saya sore tadi dengan beliau :

Menurut Ustadz bagaimana pandangan Islam terhadap Ibu pekerja?

Dalam Islam sendiri sudah jelas tentang hukum wanita atau Ibu bekerja seperti apa. Ibu bekerja ada dua hal yang perlu di perhatikan:

Pertama adalah kondisi normal. Normal disini artinya adalah seorang Ibu dengan seorang suami yang bekerja dan mencari nafkah memenuhi semua kebutuhan keluarga. Dalam kondisi ini sebaik-baik profesi Ibu adalah menjaga anak-anak dan harta suaminya. Hal ini tercantum dalam Shohih Buchori no hadist 893, 2409, 2558, 2751, 5188, dan 5200.

Kedua adalah kondisi tidak normal. Kondisi ini misalkan seorang ibu tunggal karena suaminya meninggal, atau cerai. Seorang Ibu tunggal boleh bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. Hal ini di perbolehkan daripada Ibu tersebut meminta-minta. Karena dalam islam meminta-minta itu adalah hina sedangkan bekerja itu mulia.

Namun, jika Ibu tunggal tersebut memiliki harta warisan yang cukup untuk biaya kehidupan maka sebaiknya tidak bekerja. Lebih baik mengelola apa yang ditinggalkan oleh suami agar cukup untuk kehidupan. Atau jika menjadi Ibu tunggal karena perceraian dan mantan istri masih mencukupi kebutuhan anak-anak dan mantan istrinya, maka dilarang bagi ibu tersebut untuk bekerja.



Fenomena yang ada saat ini banyak Ibu pekerja padahal mereka jelas memiliki suami. Bagaimana, apakah hal tersebut menjadi haram, makruh, atau halal?

Melihat fenomena yang terjadi saat ini memang jauh berbeda dengan apa yang saya terangkan di atas. Dalam situasi demikian tentu harus ada alasan yang dapat dipertanggung jawabkan kelak di akherat. 

Jika memilki suami tetapi tetap bekerja dengan niat membantu suami maka diperbolehkan. Tetapi bukan berniat untuk menafkahi keluarga, karena tugas menafkahi adalah suami. selain itu izin dari suami tentu menjadi hal utama yang paling penting. Karena izin zuami adalah keridhoan suami, salah satu syarat masuk surga dalah keridhoan suami. maka ketaatan istri kepada suami ini penting.

Selain niat dan izin dari suami, seorang Ibu yang memutuskan untuk bekerja tidak boleh lalai akan kewajibannya terhadap keluarga. Tugas utama seorang Ibu di rumah tidak boleh terabaikan, karena itu merupakan tugas utama, sedangkan karier adalah tugas sampingan.

Selain itu jika ada hak keluarga yang terabaikan, maka ada alasan yang kelak akan menjadi pertanggung jawaban di akherat. Seharusnya ketika Ibu bekerja diluar rumah itu memberikan manfaat kebiakan yang sama besarnya dengan kebaikannya di rumah. Dalam artian ketika lalai dengan kewajiban dirumah akan menjadi dosa, dan ada alasan kerja nya di luar rumah pun memberi kebaikan atau pahala yang lebih besar dari kewajiban di rumah.

Islam sendiri tidak menyebut dengan kerja tetapi Amal. Jika kerja itu identik berkaitan dengan upah atau uang. Sedangkan kata Amal lebih kepada makna kebaikan, pahala dan terpenting barokah termasuk di dalamnya upah. Ibadah mencakup semua aspek hasil dari nilai kebaikan dunia akherat.

Oleh karena itu menurut ustadz Heru seorang wanita yang bekerja diawali dengan niat yang benar dulu baru menghasilkan sebuah hukum dala islam. Ketika niatnya mencari nafkah sedangkan suami mencukupi kebutuhan maka ini hukumnya haram. Ketika seorang istri bekerja diniatkan untuk ibadah membawa manfaat bagi orang lain termasuk keluarga di dalamnya tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu maka ini boleh.



Adakah rambu-rambu bagi ibu pekerja yang harus diperhatikan ustadz?
Rambu-rambu bagi Ibu pekerja tentu ada dan ini wajib untuk menjadi sebuah pegangan dalam bekerja.

1. Niat
Kembali kepada niat yang sudah dijelaskan oleh ustadz diawal tadi. Harus diniatkan untuk ibadah. Jika niat bekerja hanya karena unag maka yang di dapat hanya uang saja tanpa pahala kenaika dan kebarokahan dari pekerjaannya.
Oleh karena itu janagn lupa niatkan untuk Ibadah.


2. Syariat
Pekerjaan yang dipilih hendaknya sesuai syariat, atau norma-norma sosial dalam masyarakat. Jika menimbulkan keburukan maka tinggalkan, contoh jika pekerjaan ini merugikan orang lain seperti rentenir, pelacur, maka harus ditinggalkan karena ini haram.


3. Akhlak
Ibu pekerja harus memiliki akhlak yang baik. Akhlak ini berkaitan dengan cerminan diri seorang Ibu. Seseorang yang akhlaqnya baik maka keyakinannya kuat dan kepribadiannya baik. Contoh memiliki akhlaq yang baik adalah tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat. Misalkan jika di tempat bekerja dandan menor, centil, sehingga menimbulkan fitnah dengan lawan jenis.

Demikian bebrapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang penulis diskusikan dengan ustadz Heru. Sangat mengisnpirasi saya sebagai penulis adan juga Ibu pekerja. Sehingga menjadi sebuah refleksi diri dari setiap hasil diskusi ini.

Adapun pesan yang di sampaikan Oleh ustadz heru “ Setisp Ibu pekerja harus bisa mempertanggung jawabkan pekerjaannya kelak di akherat. Oleh karena itu maka carilah alasan terbaik kelak ketika di tanya kenapa bekerja. Pekerjaan yang baik dalah yang akan membawa banayk pahala di akherat. Dimana pekerjaan tersebut membawa dampak baik bagi orang lain. seperti penulis, menulislah hal-hal baik dan menginspirasi orang. Sehingga setiap tulisan yang dibaca membawa kebaikan dan manfaat sehingga bisa menjadi salah satu jalan pahala di akherat kelak.

Kerja dengan niat ibadah saja tidak cukup tetapi harus ada pembuktian. Buktikanlah dengan ucapan dan perbuatan. Lakukan setiap pekerjaan dengan baik, dan ikhlas sesuai dengan niat Ibadah bukan sekedar upah.

Demikian hasil wawancara dengan ustad Heru Wahyudi. Rasanya tidak habis-habis ingin bertanya dengan beliau. Wawasan yang luas cara bicara yang menyenangkan tanpa usur menggurui membuat saya betah berdiskusi dengan beliau. 

15 Komentar untuk "Ibu Pekerja Dalam Pandangan Islam"

  1. Menarik sekali mb ulasannya

    BalasHapus
  2. MENGALIR BANGEEET kata-kata tulisannya.. makasih info nya mbaak. :)

    BalasHapus
  3. Satu hal yang paham betul soal ini, jika memang kemuliaan seorang wanita di rumah, dan semua wanita sepakat untuk resign, terlepas dari alasan masing2, sehingga gak ada lagi pekerja wanita di luar sana, maka siapalaj yang akan menolong kita lahiran, mengajar anak2 perempuan kita, bahkan yang sepele saat memilih berkendaraan dengan ojek ternyata gak ada ojek wanita? Hmm, belum ada yang bisa menjawab hal ini. Hihihi. Maka jangan menganggap melulu perempuan yang resign lebih baik dari yang terus bekerja.

    BalasHapus
  4. Iya mbak Emmy makanya dijelaskan boleh tetapi dengan beberapa kriteria tersebut dan atas izin suami. Diperbolehkan bekerja jika membawa banyak kebaikan baik orang lain maupun keluarga. Dan diniatkan untuk beramal kebaikan.

    BalasHapus
  5. Ibu Saya Juga bekerja. menjual sayur di pasar. saya ingat banget kalo ibu saya enggak jualan di pasar saat itu mungkin kami anak-anak tidak bisa kuliah tinggi hingga sekarang. saat itu pegawai negeri penghasilannya tidak seperti sekarang. ibu yang bekerja menurut saya adalah ibadah dan sedekah untuk keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali menjadi amal ibadahnya dan sedekah untuk keluarga. Luar biasa, jadi inspirasi nih terimakasih

      Hapus
  6. Intinya bekerja itu pilihan bagi seorang ibu. Jika bisa membantu ekonomi keluarga, kenapa tidak? Bukankah lebih baik, membantu suami. Meskipun seorang istri baiknya mengurus keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di tanya lebih baik jawabannya yg terbaik di rumah. Tetapi bukan berarti dilarang mas jika niat dan tujuannya benar, jenis pekerjaan baik dan halal membawa kebaikan diperbolehkan. Sepemahaman saya demikian.

      Hapus
  7. Masya Allah terharu baca ini. Ingat perjuangan ibu menyekolahkan kami hingga tinggi setelah Ayah meninggal. Barokallah artikelnya menarik Mbk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak Naqiyyah, ibu tunggal itu luar biasa perjuangannya salam takzim buat bundanya mbak Naqiyyah.

      Hapus
  8. Posisi ibu dalam Islam emang luar biasa.. semoga kita diberi kesempatan untuk berbakti pada Ibu.. aamiin

    BalasHapus
  9. Terimakasih kak ilmunya. Saya jadi paham dan agak terang mengambil keputusan saat berkeluarga nantinya :)

    BalasHapus

mohon komentar dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel